Membaca Prabowo, Oleh: Sukma Hadi Watalam *)

Indramayu, Suarajurnalis – Memahami sosok Presiden Prabowo ternyata tidak sesederhana membaca peta politik biasa. Jika Jokowi ibarat buku tipis yang sekali dibuka langsung terlihat alurnya, maka Prabowo lebih menyerupai novel tebal penuh plot twist—membuat siapa pun yang mencoba memahaminya harus berhenti, mengulang, dan bertanya-tanya. Semakin diperhatikan, justru semakin terasa rumit.

Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan, langkah-langkah politiknya kerap memunculkan tafsir ganda: antara strategi jangka panjang seorang jenderal atau sekadar manuver pragmatis. Pujian dan pembelaannya terhadap Jokowi yang dulu menjadi rival, keputusan maju bersama Gibran, hingga sikapnya di panggung kampanye dan debat—semuanya menyisakan rasa heran, bahkan perlahan mengikis simpati sebagian orang.

Kebingungan itu belum juga usai ketika ia terpilih sebagai presiden. Alih-alih menghadirkan kejelasan, yang muncul justru kesan bahwa ia berada dalam posisi “tersandera”. Rasa kasihan sempat hadir. Namun pernyataannya yang lantang—“Hidup Jokowi!”—kembali membalik empati menjadi tanda tanya besar yang menggantung.

Kini, saat kritik terhadap pemerintah kerap dibalas dengan tudingan “antek asing”, publik kembali terdiam ketika Prabowo justru bergabung dengan forum perdamaian dunia yang digagas Amerika Serikat. Bahkan muncul kabar tentang iuran Board of Peace ala Trump dengan nilai yang sulit dicerna nalar sehari-hari, disebut mencapai Rp17 triliun—iurannya sekelas negara, seperti APBN yang sedang diet, namun tetap diminta mentraktir, dengan senyum yang dipaksakan.

Padahal kita tahu, hampir tak ada gerakan global yang digagas Amerika tanpa kepentingan strategis. Selalu ada agenda yang berjalan rapi di balik jargon perdamaian. Maka wajar jika publik kembali bertanya, bukan dengan amarah, melainkan dengan kelelahan: siapa sebenarnya yang sedang memainkan peran, dan untuk kepentingan siapa semua ini dijalankan?

Pada akhirnya, kebingungan ini berubah menjadi kelelahan batin. Bukan karena benci, melainkan karena kita pernah berharap. Berharap pada ketegasan, pada keberanian, pada pemimpin yang berdiri tegak di sisi rakyat tanpa perlu berteriak dan menuding. Yang tersisa kini hanyalah keheningan panjang—keheningan orang-orang yang dulu percaya, lalu perlahan belajar menurunkan ekspektasi. Membaca Prabowo bukan lagi soal memahami strategi, melainkan tentang menerima kenyataan pahit: bahwa tidak semua harapan yang kita titipkan pada kekuasaan akan dijaga. Dan di titik itu, kita hanya bisa diam, menahan kecewa, sambil bertanya dalam hati—ke mana sebenarnya harapan itu pergi?

*) penulis adalah aktivis GP. Ansor
Red: Al Aris

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *