Indramayu, Suarajurnalis – Kenapa namanya “Syawwal”?, mengupas makna dari sisi bahasa Arab dan pendapat ulama.
Setelah sebulan penuh kita berada di bulan Ramadhan, kini kita memasuki bulan Syawwal. Namun, pernahkah kita merenungkan mengapa bulan ini dinamakan Syawwal (شوال)?
Nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah bukan sekedar label, melainkan memiliki akar sejarah dan makna kebahasaan yang mendalam. Berikut adalah ulasannya berdasarkan referensi kitab-kitab otoritatif:
1. Makna “Al-Irtifa’” (Kenaikan/Mengangkat)
Secara etimologi, kata Syawwal berasal dari akar kata Shala (شال) yang berarti mengangkat atau meninggi. Dalam kitab kamus legendaris Lisanul Arab, Ibnu Manzhur rahimahullah menjelaskan:
“Sesungguhnya dinamakan Syawwal karena bertepatan dengan saat unta betina mengangkat ekornya (syalat bi dzanabiha).” (Lisan al-Arab, Juz 11)
Filosofi:
Para ulama memaknai fenomena alam ini sebagai simbol peningkatan. Jika Ramadhan adalah masa “menanam”, maka Syawwal adalah saat “mengangkat” derajat ketakwaan kita ke level yang lebih tinggi.
2. Makna “Tashawwala” (Berkurangnya Air Susu)
Referensi lain menyebutkan bahwa Syawwal berasal dari kata tashawwala (تشول) yang bermakna “berkurang” atau “menjadi sedikit”.
Imam Al-Jauhari dalam kitabnya Ash-Shihah menyebutkan:
“Dinamakan Syawwal karena saat itu air susu unta mulai berkurang atau mengering [تشول لبن الإبل] (tasyawwala labanul ibil).” (Ash-Shihah fi Al-Lughah)
Refleksi:
Hal ini menjadi pengingat agar setelah Ramadhan, semangat ibadah kita tidak ikut “mengering”.
Justru di bulan ini kita ditantang untuk menjaga sisa-sisa semangat Ramadhan, agar tetap awet sepanjang tahun.
-. Pesan dari Ibnu Rajab Al-Hanbali
Mengenai kaitan Syawwal dengan ibadah, Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah memberikan nasihat indah dalam kitabnya yang fenomenal:
“Barangsiapa yang kembali melakukan ketaatan setelah selesai melaksanakan ketaatan, maka itu adalah tanda diterimanya amalannya yang pertama.
Dan barangsiapa yang kembali melakukan kemaksiatan setelah ketaatannya, maka itu adalah tanda tertolaknya amalan tersebut.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 244)
Syawwal adalah momentum pembuktian. Apakah kualitas diri kita “naik” (Irtifa’) sesuai namanya, atau justru kita membiarkan amal kita “menguap” begitu saja?
Apa yang Harus Kita Tingkatkan?
* Konsistensi Salat
Menjaga salat berjamaah yang sudah rutin di bulan Ramadhan.
* Tilawah Al-Qur’an
Jangan biarkan mushaf berdebu hingga Ramadhan tahun depan.
* Puasa Sunnah
Menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawwal sebagai penyempurna.
Semoga Allah mengistiqomahkan kita untuk terus naik dan bertumbuh di bulan Syawwal ini.
Sumber : Pena Aswaja
Red : Al Aris
Kenapa Namanya Syawwal?







