Indramayu, Suarajurnalis – Bayangkan suasana hening dan penuh tekanan di sebuah ruang sederhana, jauh dari hiruk pikuk kekuasaan yang dulu mengelilingi seorang pemimpin besar. Di masa-masa senjanya, Bung Karno Putra Sang Fajar, Proklamator Republik Indonesia mengucapkan sebuah kalimat yang mengguncang nurani sejarah:
“Harto, jane aku iki arep kok apa kek?”
Dalam bahasa Indonesia berarti:
“Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan? Aku ini pemimpinmu.”
Ungkapan itu tercatat dalam autobiografi Soeharto dan muncul setelah penjelasan panjang mengenai peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Saat itu, masa kekuasaan Bung Karno mulai meredup setelah gelombang politik besar mengguncang negeri. Sejak penandatanganan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) tahun 1966, arah sejarah berubah, kendali negara beralih, dan kehidupan Bung Karno pelan-pelan menjauh dari cahaya.
Masa-masa Sunyi di Wisma Yaso
Sejak Mei 1967, gelar Presiden dan status kepala negara tak lagi melekat pada Bung Karno. Ia menjalani hari-hari yang semakin sunyi, menjadi objek interogasi Team Pemeriksa Pusat (Terperpu) terkait G30S.
Bung Karno diasingkan ke Wisma Yaso kini Museum Satria Mandala, Jakarta sebuah bangunan yang semakin suram dan tak lagi terurus, bahkan tukang kebun pun dilarang masuk. Ia hanya ditemani putrinya Rachmawati Soekarnoputri dan dokter kepresidenan Prof. Dr. Mahar Mardjono.
Namun ketika kalimat pilu itu terucap, Soeharto memerintahkan agar interogasi dihentikan. Meski begitu, kesunyiannya tak pernah benar-benar berakhir. Bung Karno semakin tersisih dari publik, tak boleh dijenguk para wartawan, sementara di luar demonstrasi Tritura menggema menuntut perubahan besar.
Pertarungan Prinsip yang Tak Pernah Pudar
Sejarah mencatat, Soeharto membujuk Bung Karno hingga 10 kali untuk membubarkan PKI. Namun Bung Karno menolak, karena itu berarti menghancurkan idealismenya tentang Nasakom Persatuan Nasionalis, Agama, dan Komunis.
Dengan teguh ia berkata:
“Dudu sanak, dudu kadang, nek mati melu kelangan.”
Artinya: bukan saudara, bukan kawan, tapi kalau mati aku ikut kehilangan.
Sebuah kalimat yang menggambarkan kesetiaannya pada persatuan bangsa di atas segala kepentingan.
Di penghujung hidupnya, Sang Proklamator tidak lagi berada dalam gemuruh tepuk tangan jutaan rakyat, tetapi dalam kesunyian yang mencekam. Namun Indonesia tak pernah lupa bahwa di balik pergeseran kekuasaan yang getir, berdirilah seorang pemimpin besar yang memegang teguh prinsipnya hingga akhir napas.
Sumber : hops.id
red: Al Aris
Kalimat Terakhir Sang Proklamator: ‘Harto, Aku Ini Akan Kamu Apakan?






